KURIKULUM BERBASIS CINTA DAN DEEP LEARNING: MENUMBUHKAN PEMBELAJARAN YANG BERMAKNA DAN BERHATI

Mempawah, 29 Oktober 2025 — Dalam upaya memperkuat kualitas pendidikan madrasah dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna, Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) Kabupaten Mempawah menggelar kegiatan Workshop Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning di Aula Masjid Rayyana, Pondok Pesantren Darussalam Sengkubang (Kampus 2). Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Madrasah, Wakil Kepala Bidang Kurikulum, dan satu orang guru perwakilan dari setiap Madrasah Aliyah se-Kabupaten Mempawah, dengan total peserta sebanyak 90 orang dari 30 madrasah.
Sejak pagi, suasana di aula telah dipenuhi semangat kolaboratif dan antusiasme peserta. Kehangatan kebersamaan tampak jelas dari interaksi para pendidik yang datang dari berbagai penjuru Mempawah, bersatu dalam semangat memperkuat kapasitas pembelajaran. Pada Awal kegiatan sambutan dari Ketua KKMA Kabupaten Mempawah, Tutik Rusmawati, M.Pd, yang menekankan pentingnya memaknai kembali tujuan pendidikan madrasah melalui pendekatan yang lebih manusiawi dan penuh kasih.
Dalam sambutannya, Tutik Rusmawati menyampaikan rasa syukur mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menyebut workshop ini sebagai langkah nyata untuk meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran di Madrasah Aliyah, sejalan dengan visi “Madrasah Mandiri, Berprestasi, dan Mendunia.” Tutik menjelaskan bahwa Deep Learning atau pembelajaran mendalam bukan sekadar pendekatan akademik, melainkan paradigma baru yang mendorong guru untuk mengajarkan makna, bukan hanya materi.
“Deep Learning bukan hanya tentang transfer pengetahuan kognitif, tetapi tentang bagaimana seorang pendidik mampu menyalakan lentera berpikir kritis, reflektif, dan kreatif di dalam diri peserta didik. Guru harus mampu menuntun siswa agar tidak hanya tahu, tetapi juga memahami dan merasakan makna di balik pengetahuan,” ujar Tutik dengan penuh keyakinan.
Lebih lanjut, Tutik memperkenalkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai ruh pendidikan sejati yang menegaskan bahwa hakikat belajar tidak terpisah dari kasih sayang. Ia menuturkan bahwa cinta kepada Allah, cinta kepada ilmu, cinta kepada sesama peserta didik, dan cinta kepada profesi adalah empat pilar utama yang menjadi pondasi KBC. Menurutnya, hanya dengan cinta, proses belajar dapat menyentuh hati, menumbuhkan karakter, serta menciptakan lingkungan belajar yang penuh keteladanan dan kebermaknaan.
“Cinta adalah bahasa universal dalam pendidikan. Ketika guru mengajar dengan cinta, siswa akan belajar dengan jiwa. Inilah yang ingin kita hidupkan di setiap madrasah,” tambahnya dalam sambutan yang disambut tepuk tangan hangat para peserta.
Usai sambutan Ketua KKMA, kegiatan dilanjutkan dengan pengarahan dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mempawah, Bapak H. Ikhwan Pohan, S.Ag, M.Pd. Dalam arahannya, beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap inisiatif KKMA yang dinilai sebagai langkah progresif dan inspiratif dalam membangun peradaban pendidikan madrasah.
“Apa yang dilakukan KKMA hari ini adalah bentuk nyata kesadaran kolektif kepala madrasah untuk terus berkembang dan berinovasi. Workshop ini menjadi wadah penting bagi para pendidik untuk saling berbagi wawasan dan praktik baik dalam pengelolaan pendidikan. Saya berharap, kegiatan seperti ini tidak berhenti di sini, tetapi menjadi budaya pengembangan profesional berkelanjutan,” ujarnya penuh semangat.
Lebih jauh, Ikhwan menegaskan bahwa kurikulum di madrasah seharusnya tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan spiritual dan emosional. Ia menekankan pentingnya menghadirkan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kasih sayang sebagai ciri khas madrasah yang berbeda dari lembaga pendidikan umum.
Dalam pelaksanaannya, KKMA Kabupaten Mempawah menghadirkan dua narasumber terkemuka. Pertama, Prof. Dr. Hj. Nuraini Asriati, M.Si, Guru Besar FKIP Universitas Tanjungpura (UNTAN), yang memaparkan materi tentang “Implementasi Deep Learning dalam Pembelajaran Madrasah”. Dalam penyampaiannya, Prof. Nuraini menekankan bahwa deep learning bukan hanya strategi mengajar yang berorientasi hasil, tetapi pendekatan yang memampukan peserta didik menemukan makna dari setiap proses belajar.
Menurutnya, guru perlu menata ulang paradigma pembelajaran dari sekadar “mengajar agar tahu” menjadi “membimbing agar paham dan bermakna”. Ia memberikan contoh konkret bagaimana guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang menantang, reflektif, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa.
Narasumber kedua, Dra. Hj. Lina Herlina, M.Pd.I, membawakan materi bertajuk “Kurikulum Berbasis Cinta: Menghidupkan Hati dalam Proses Belajar Mengajar.” Dalam pemaparannya, beliau mengajak seluruh peserta untuk memandang profesi guru sebagai ladang ibadah dan pengabdian. Ia menuturkan bahwa ketika seorang guru mendidik dengan cinta, maka setiap interaksi dengan peserta didik akan menjadi sumber inspirasi yang melahirkan generasi berkarakter dan berakhlak.
“Kurikulum Berbasis Cinta bukan slogan kosong, tetapi cermin dari hati seorang pendidik yang tulus. Dengan cinta, guru tidak sekadar mengajar, tetapi membentuk manusia seutuhnya,” tutur Hj. Lina dengan penuh kelembutan.
Kegiatan workshop yang dimulai sejak pagi berlangsung hingga pukul 16.00 WIB. Sepanjang kegiatan, suasana dialogis dan interaktif tercipta dengan hangat. Para peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mengajukan pertanyaan kritis seputar penerapan pembelajaran mendalam serta integrasi nilai cinta dalam kurikulum madrasah.
Menjelang penutupan, Ketua KKMA Tutik Rusmawati, M.Pd kembali menyampaikan pesan reflektif. Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak berhenti pada pemahaman teoritis semata, tetapi benar-benar mengimplementasikan hasil workshop di satuan kerja masing-masing.
“Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai langkah awal menuju perubahan yang lebih bermakna. Jadilah pendidik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga hangat dalam hati dan bijak dalam mendidik generasi penerus bangsa,” ujarnya menutup kegiatan dengan penuh harapan.
Workshop ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Banyak di antara mereka yang mengungkapkan rasa syukur dan inspirasi baru dalam memaknai profesi guru. Dengan semangat kolaboratif, kegiatan ini tidak hanya mempererat silaturahmi antar-madrasah, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam menghidupkan pendidikan yang berlandaskan cinta dan nilai spiritual.
Sebagai penutup, kegiatan Workshop Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning ini menegaskan bahwa madrasah bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan ruang pembentukan jiwa dan karakter. Dari ruang aula di Pondok Pesantren Darussalam Sengkubang inilah, lahir semangat baru bagi para pendidik Madrasah Aliyah se-Kabupaten Mempawah untuk terus bergerak, berinovasi, dan mendidik dengan hati.
Melalui kegiatan ini, KKMA Kabupaten Mempawah telah meneguhkan perannya sebagai wadah strategis dalam mengembangkan mutu pendidikan madrasah. Dengan cinta dan pembelajaran mendalam, madrasah bukan hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga generasi yang berjiwa luhur, penuh kasih, dan siap membawa perubahan menuju Indonesia yang berkarakter dan berkeadaban. TRW
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Berita Lainnya :
- Penilaian Kinerja Kepala Madrasah MAN Mempawah Tahun 2025 Dorong Penguatan Mutu Kepemimpinan
- Sosialisasi Universitas Indonesia Dorong Siswa Kelas XII MAN Mempawah Menatap Masa Depan
- Prestasi Seni Budaya Menggema di Lapangan Upacara, MAN Mempawah Serahkan Sertifikat Pemenang Ajang E
- MAN Mempawah Gelar Rapat Awal Semester Genap, Mantapkan Kinerja dan Integritas Lembaga
Kembali ke Atas



